e-SH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Kamis, 28 Mei 2026
Ayat SH: 1 Korintus 7:1-16
Judul: Kapan Menikah?
Ada yang berpendapat bahwa hidup seseorang belum lengkap jika ia belum menikah. Benarkah? Apakah semua orang harus menikah?
Rasul Paulus memberi perhatian terhadap pernikahan sehingga ia memberi nasihat kepada anggota jemaat yang tinggal bersama suami/istrinya (2-5, 10, 12-16), juga yang tidak menikah, yang menjadi janda, dan yang sudah bercerai (8-9, 11). Ia sendiri tidak menikah dan ia tidak memaksakan pilihan hidupnya kepada jemaat, sebab ia sadar betul bahwa setiap orang menerima karunia yang khas dari Allah (7).
Apa yang Paulus harapkan bukan supaya jemaat menikah atau tidak menikah. Harapannya adalah agar jemaat menghindari percabulan, memenuhi kewajibannya, menahan hawa nafsu, menguasai diri, dan hidup dalam damai sejahtera (2-3, 5, 9, 15).
Cara pandang Rasul Paulus patut ditiru. Pandangan umum bahwa semua orang harus menikah menjadi tekanan besar bagi orang-orang yang memang tidak ingin menikah atau belum menemukan pasangan yang tepat. Ditambah lagi, tekanan itu diperberat dengan anggapan keliru bahwa ada batasan umur untuk menikah.
Padahal, dalam janji pernikahan di gereja, kata-kata yang diucapkan oleh mempelai adalah: "Di hadapan Tuhan dan gereja Kristen di sini, saya mengakui bahwa ... adalah istri/ suami saya, karunia Tuhan." Jelas bahwa istri dan suami adalah karunia Tuhan, artinya pemberian yang seturut dengan kehendak sang Pemberi.
Dengan demikian, kita belajar menerima bahwa ada yang dikarunai istri atau suami sehingga mereka hidup dalam pernikahan. Namun, ada juga yang dikaruniai kondisi yang lain sehingga mereka tidak menikah. Sudah semestinya, kita memandang orang yang menikah maupun tidak menikah secara positif. Semuanya sama-sama penerima karunia Tuhan.
Mari kita bertobat dari kebiasaan mengusik orang dengan pertanyaan, "Kapan menikah?" karena hanya Tuhan, Sang Pemberi Karunia, yang berkuasa atas itu semua. Mari kita semua, yang menikah atau tidak, sama-sama hidup dalam penguasaan diri dan damai sejahtera! [KRS]
e-SH versi web: https://www.sabda.org/publikasi/sh/2026/05/28/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab: https://alkitab.sabda.org/?1+Korintus+7:1-16
Mobile: https://alkitab.mobi/tb/passage/1+Korintus+7:1-16
1 Korintus 7:1-16
1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
e-SH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Diterbitkan dan Hak Cipta(c) oleh Scripture Union Indonesia
e-SH Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
(e-SH) owner-i-kan-akar-Santapan-Harian@hub.xc.org
- - -
Anda diberkati melalui Santapan Harian?
Mari mendukung pelayanan Yayasan Pancar Pijar Alkitab (PPA)
Rekening BCA cab Pintu Air no. 106.30066.22 an. Yay Pancar Pijar Alkitab
e-Santapan Harian
Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Kamis, 28 Mei 2026
Ayat SH: 1 Korintus 7:1-16
Judul: Kapan Menikah?
Ada yang berpendapat bahwa hidup seseorang belum lengkap jika ia belum menikah. Benarkah? Apakah semua orang harus menikah?
Rasul Paulus memberi perhatian terhadap pernikahan sehingga ia memberi nasihat kepada anggota jemaat yang tinggal bersama suami/istrinya (2-5, 10, 12-16), juga yang tidak menikah, yang menjadi janda, dan yang sudah bercerai (8-9, 11). Ia sendiri tidak menikah dan ia tidak memaksakan pilihan hidupnya kepada jemaat, sebab ia sadar betul bahwa setiap orang menerima karunia yang khas dari Allah (7).
Apa yang Paulus harapkan bukan supaya jemaat menikah atau tidak menikah. Harapannya adalah agar jemaat menghindari percabulan, memenuhi kewajibannya, menahan hawa nafsu, menguasai diri, dan hidup dalam damai sejahtera (2-3, 5, 9, 15).
Cara pandang Rasul Paulus patut ditiru. Pandangan umum bahwa semua orang harus menikah menjadi tekanan besar bagi orang-orang yang memang tidak ingin menikah atau belum menemukan pasangan yang tepat. Ditambah lagi, tekanan itu diperberat dengan anggapan keliru bahwa ada batasan umur untuk menikah.
Padahal, dalam janji pernikahan di gereja, kata-kata yang diucapkan oleh mempelai adalah: "Di hadapan Tuhan dan gereja Kristen di sini, saya mengakui bahwa ... adalah istri/ suami saya, karunia Tuhan." Jelas bahwa istri dan suami adalah karunia Tuhan, artinya pemberian yang seturut dengan kehendak sang Pemberi.
Dengan demikian, kita belajar menerima bahwa ada yang dikarunai istri atau suami sehingga mereka hidup dalam pernikahan. Namun, ada juga yang dikaruniai kondisi yang lain sehingga mereka tidak menikah. Sudah semestinya, kita memandang orang yang menikah maupun tidak menikah secara positif. Semuanya sama-sama penerima karunia Tuhan.
Mari kita bertobat dari kebiasaan mengusik orang dengan pertanyaan, "Kapan menikah?" karena hanya Tuhan, Sang Pemberi Karunia, yang berkuasa atas itu semua. Mari kita semua, yang menikah atau tidak, sama-sama hidup dalam penguasaan diri dan damai sejahtera! [KRS]
e-SH versi web: https://www.sabda.org/publikasi/sh/2026/05/28/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab: https://alkitab.sabda.org/?1+Korintus+7:1-16
Mobile: https://alkitab.mobi/tb/passage/1+Korintus+7:1-16
1 Korintus 7:1-16
1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
e-SH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Diterbitkan dan Hak Cipta(c) oleh Scripture Union Indonesia
e-SH Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
(e-SH) owner-i-kan-akar-Santapan-Harian@hub.xc.org
- - -
Anda diberkati melalui Santapan Harian?
Mari mendukung pelayanan Yayasan Pancar Pijar Alkitab (PPA)
Rekening BCA cab Pintu Air no. 106.30066.22 an. Yay Pancar Pijar Alkitab
