| PA Online: Alki-TOP | Kasih kepada sesama tidak bergantung pada kesamaan atau kenyamanan, melainkan lahir dari hati yang rindu meneladani sifat Allah. Penggalian kali ini mengingatkan kita pada perumpamaan tentang orang Samaria yang menunjukkan belas kasihan secara nyata kepada seseorang yang berbeda darinya dan mengajarkan bahwa sesama kita bukanlah orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Melalui tema "Bahasa Kasih" yang diusung oleh PA Online Alki-TOP sepanjang bulan Februari ini, dan pembahasan topik "Kasih di Tengah Perbedaan", kita diundang untuk merenungkan tindakan kasih yang konkret, membuka hati untuk menolong, serta meneladani kasih Allah yang melampaui batas, agar hidup kita memancarkan kebaikan bagi semua orang di sekitar kita. | Berikut ini adalah contoh pertanyaan yang didiskusikan dalam PA Online Alki-TOP Kasih di Tengah Perbedaan dalam Lukas 10:30�37. - Simak: Apa yang terjadi dengan orang yang sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho? (ayat 30)
- Analisa: Bandingkan reaksi orang Samaria yang �tergeraklah hatinya oleh belas kasihan� (ayat 33), dengan reaksi imam dan orang Lewi yang �melihat lalu melewati dari seberang jalan�. Apa perbedaan kata kerja dari kedua frasa itu?
- Belajar: Melihat perbedaan respons antara imam, orang Lewi, dan orang Samaria, apa yang dapat kita simpulkan dari pengajaran Yesus tentang �siapakah sesamaku�?
- Doa/Diskusi: Jika orang yang paling menunjukkan kasih justru datang dari kelompok yang selama ini kita anggap �jahat�, �berbahaya�, atau �bukan bagian dari kita�, apakah kita bersedia mengakui dia sebagai teladan rohani?
- Aplikasi: Yesus menutup perumpamaan ini dengan perintah, �Pergilah, dan perbuatlah demikian!� Adakah �sesama� yang ada di sekitar hidupmu saat ini (keluarga, kampus, gereja, atau lingkungan kerja) yang selama ini kamu lihat tetapi cenderung kamu lewati? Komitmen praktis apa yang ingin kamu lakukan sebagai tindakan kasih?
| | | | | | ArtikelPA21 | | Perintah Kasih | | | "Saudara-saudaraku yang kukasihi, marilah kita saling mengasihi." (1 Yohanes 4:7) Kapan terakhir kali seorang Kristen memanggil Engkau, "Saudara yang kekasih"? Dalam pemakaian alkitabiah penyataan ini tidak bersifat sentimental. Paragraf teragung mengenai kasih dalam Alkitab dimulai pada 1 Yohanes 4:7 dengan kata-kata, "Saudara-saudaraku yang kukasihi, marilah kita saling mengasihi," dinyatakan dalam dua kata Yunani yang penuh penekanan, "Agapetoi, agapomen," yang arti harfiahnya, "Engkau, yang telah dikasihi Allah, kasihilah satu sama lain." Kita harus saling mengasihi dengan tiga alasan: Allah adalah kasih. Dua kali dalam konteks ayat 8 dan 16, Yohanes menyatakan kebenaran ALLAH ADALAH KASIH! Cara mengekspresikan ini berarti bahwa kasih Allah tidak hanya salah satu sifat di antara sifat-sifat lainnya. Berarti bahwa Allah kasih dalam keberadaan-Nya terus menerus, secara intrinsik. Kesucian dan kasih menjadi karakteristik seluruh keberadaan Allah (1 Yohanes 1:5). Pemberian Allah membuktikan kasih-Nya. Alasan kedua yang mendorong motivasi untuk saling mengasihi didasarkan pada pemberian Bapa dalam sejarah. Ia "mengutus" Anak-Nya. Mengutus Dia berpresuposisi Ia adalah Allah dan memiliki pra-eksistensi-Nya. Pengutusan merupakan suatu pemberian demi keselamatan kita, pertama dengan menyediakan kebenaran melalui kehidupan-Nya yang sempurna bagi kita, dan kedua melalui pendamaian. Merupakan satu tindakan penuh kehinaan untuk mengambil rupa manusia, tetapi dengan merendahkan diri sendiri, bahkan sampai mati di kayu salib, Ia menjadi korban penebusan bagi dosa kita; Penanggung murka, Pengganti posisi kita yang terhukum. Senjata kita untuk memenangkan dunia adalah kebenaran dan kasih. Betapa Bapa yang penuh kasih tidak menderita ketika melihat Anak Tunggal-Nya mati dalam kehinaan? Tidak pernah terjadi, tidak sekali- kali terjadi, pengorbanan diri lebih besar dari pemberian Bapa akan Anak-Nya untuk menjadi korban penebusan atas murka Ilahi dan memuaskan keadilan Ilahi. Tidak ada pemberian lebih besar dari Bapa yang dapat dihitung karena tidak ada pemberian yang lebih besar yang mungkin diberikan. Itulah pemberian "tak terkatakan" (2 Korintus 9:15, juga 1 Yohanes 3:16; Roma 8:32). Dalam 1 Yohanes 4:7-12 kita mendapatkan penjelasan lebih jelas mengenai kasih Bapa. Patut dicatat pengekspresian kata "sedemikian mengasihi". Jika Allah sedemikian mengasihi kita, kita harus saling mengasihi. Kasih Allah sempurna di dalam kita jika kita mengasihi satu dengan yang lain. "Jika kita saling mengasihi, Allah tinggal di dalam kita dan kasih-Nya itu disempurnakan di dalam kita." (1 Yohanes 4:12). Ini merupakan pernyataan yang mengagetkan karena kita tahu bahwa kasih Allah sempurna dinyatakan dalam ketritunggalan-Nya. Akan tetapi, Yohanes menekankan bahwa kasih Allah dibawa kepada kesempurnaan di dalam kita ketika kita mengasihi sebagaimana seharusnya. Kasih Allah dinyatakan ulang dalam kita dan di antara kita ketika kita saling mengasihi satu dengan yang lain dalam kebenaran dan dalam tindakan. | | | | | | | Anda menerima publikasi ini karena Anda terdaftar sebagai pelanggan publikasi PA21 dengan alamat: : pakettourkeisrael@gmail.com. | Untuk mengirim persembahan: BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati � 2026 � Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | |
| |